MENURUT Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prasangka adalah pendapat atau anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui, menyaksikan, atau menyelidiki sendiri. Jika dikaitkan dengan etnis, artinya kita melebeli seseorang dari etnis tersebut dengan suatu anggapan buruk.
Prasangka terhadap etnis Jawa dan Tionghoa, seringkali dibentuk oleh konstruksi sosial, yang kita dapat dari orang tua, keluarga, tetangga, bahkan candaan teman-teman kita. Sehingga, lama-lama kita anggap benar. Ada unsur menormaliasi anggapan buruk itu.
Kami mencari tahu apa yang terjadi mengenai prasangka etnis Jawa dan Tionghoa di sekitar kita. Untuk mendapatkan ceritanya, kami mewawancarai dua orang dalam kurun waktu sekian bulan terakhir: Ivan Joe, mahasiswa etnis Tionghoa dan Wicaksono, mahasiswa etnis Jawa.
Prasangka dari 'Katanya'
“Ketika mendengar kata ‘orang Jawa’, tiga hal yang terlintas dalam pikiran saya adalah ‘miskin’, ‘pekerjanya orang Tionghoa’, dan ‘pemilik tanah asli Jawa’,” ujar Ivan Joe, mahasiswa Semester 3 di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).
“Ketika mendengar kata ‘Tionghoa’, tiga hal yang terlintas di kepala saya adalah ‘pelit’, ‘kurang bisa berbaur’, dan ‘individualis’,” sahut Wicaksono, mahasiswa Semester 1 di kampus yang sama. Keduanya, mengaku mendapatkan prasangka itu dari cerita orang ke orang. Bukan pengalaman langsung.
Dari sana keduanya sadar, label itu bukan lahir dari ketidaktahuan. Kurangnya interaksi di ruang publik, membuat mereka dahulu tidak memiliki rasa saling mengerti. Semakin jarang berinteraksi, semakin besar jarak yang mereka rasakan. Namun, Ivan Joe tak memungkiri, ada trauma masa lalu yang membentuk tembok tak kasat mata antar etnis tersebut.
“Seperti yang kita lihat, pernah terjadi kasus di 1998. Itu etnis Tionghoa benar-benar diincar. Kalau hal buruk ya dari pengalaman, mungkin rasisme atau trauma masa lalu, dan semua itu tidak dapat dilepaskan dari prasangka,” Ivan Joe mengaku.
Namun seiring waktu, ia merasa lebih terbuka bergaul dengan siapa saja. Wicaksono juga menambahkan, diskriminasi menjadi pangkal semua masalah sosial yang membelit etnis Jawa dan Tionghoa.
”Saya pernah punya teman etnis Tionghoa saat di SMP. Dia kena bully dikatakan ‘Eh, Cino’, ‘Sipit-sipit’, nggak cocok sekolah di sini. Saking diskriminatif, teman saya tidak kuat dan pindah sekolah,” ujar Wicaksono.
Kesalahpahaman Memicu Prasangka
Baik Wicaksono maupun Ivan Joe sepakat, banyak hal yang disalahpahami sehingga muncul diskriminasi, stereotipe, hingga prasangka terhadap etnis. Mereka mengatakan, punya pengalaman positif ketika bergaul dengan etnis lain di kehidupan sosial. Interaksi inilah yang membuat pikiran mereka terbuka dan menemukan kebenaran, bahwa keragaman itu keniscayaan.
Keduanya melihat, baik etnis Jawa dan Tionghoa, memiliki masalah yang sama, yaitu diskriminasi. Ivan Joe memberi contoh, saat bersekolah di mayoritas etnis Tionghoa, teman beretnis Jawa sering kali mendapatkan perundungan. “(Orang) Jawa sering dibilang ‘Jawa’, sering dibilang ‘hitam’, sering dibilang ‘pribumi’. Ini bukti etnis Tionghoa pun melakukan diskriminasi,” ungkapnya.
Dua contoh perundungan dengan korban dan pelaku yang sama dari dua etnis ini menunjukkan, siapapun bisa menjadi korban dan pelaku. Tidak melihat itu Jawa, atau Tionghoa. Kecenderungan ketika mereka merasa lebih berkuasa, mereka bisa saja menjadi pelaku. Namun setidaknya, Ivan Joe dan Wicaksono melihat perilaku itu sebagai perbuatan buruk dan diskriminatif.
Zaman berubah, mereka pun memiliki cara pandang sendiri dalam melihat perbedaan etnis. Kehidupan di kampus yang plural, menjadi sarana mereka berinteraksi antar etnis. Ivan Joe mengaku ingin membersihkan diskriminasi, stereotipe, hingga prasangka di kalangan etnis Tionghoa. Baginya tak ada jalan lain untuk maju, selain membersihkan prasangka.
“Pernah dapat dukungan dari etnis lain. Contoh tetangga Madura saya sangat baik, bantu keluarga saya tanpa imbalan. Di pabrik keluarga, orang Jawa (yang bekerja di sana) sangat baik, sering membantu tanpa diminta,” kata Ivan. Contoh-contoh baik di kehidupan sosial inilah yang menjadi bahan baku untuk kembali merekatkan hubungan solidaritas tanpa memandang etnis.
Begitu juga dengan Wicaksono. Sebagai pemuda yang hidup di kawasan plural atau multi etnis, bergaul dengan banyak etnis membantu cara berpikirnya sangat terbuka. “Di Surabaya Utara, banyak etnis: Tionghoa, Jawa, Timur, dan Papua. Rata-rata sudah menyikapi perbedaan dengan baik. Saya sendiri berasal dari keluarga Jawa, Madura, dan ada darah Ambon,” timpal Wicaksono.
Keragaman Adalah Keniscayaan
Keragaman adalah kenyataan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, cara kita memandang dan memperlakukan keberagaman itu sangat ditentukan pengalaman, pembelajaran, dan interaksi sehari-hari.
Melalui kisah Ivan Joe dan Wicaksono, terlihat bahwa batas sosial memang masih ada, diperkuat oleh sejarah, kebiasaan, bahkan trauma kolektif.
Namun di saat yang sama, harapan untuk hidup berdampingan tetap besar. Ada banyak cerita tentang saling menolong, saling menghormati, dan saling memahami. Dan mungkin, dari dua cerita sederhana ini, kita belajar bahwa perubahan dimulai dari hal paling kecil: mendengarkan.
Penulis: Evelyn Angelina, Charista Audrey, Andreas Eka, Leonard Panji, Giovanno Laurensiue, dan Sheril Marcia*
—
*Artikel ini merupakan naskah produk jurnalistik audio (radio) untuk tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Penyiaran Digital, Semester 1, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Naskah telah melalui proses penyuntingan dan penyesuaian oleh redaksi.